Sabtu, 17 Januari 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu menurut Para Ulama’) Seri Ke - 3

 


Di antara pokok-pokok nikmat, bahkan termasuk salah satu yang paling mulia dan paling mahal adalah nikmat waktu. Aku kumpulkan lembaran-lembaran ini untuk membicarakan tentang nilainya (berharganya waktu), khususnya di sisi para penuntut ilmu dan ahli ilmu. 


Waktu adalah umur kehidupan, tempat keberadaan manusia, tempat bernaung dan menetapnya manusia, tempat manusia memberi dan mengambil manfaat. Al Qur’an telah memberikan isyarat tentang keagungan pokok nikmat ini atas pokok-pokok nikmat (yang lain) dan telah menerangkan ketinggian derajatnya atas nikmat yang lainnya. Ada banyak ayat² (Al Qur’an) yang menunjukkan berharganya waktu, tingginya derajat waktu dan besarnya pengaruh waktu.


Sebagian Ayat yang Mengingatkan tentang nikmat waktu


Aku membatasi dengan sebagian ayat yang 

mulia tentang kedudukan waktu. Allah ta’ala berfirman seraya menganugerahkan kepada hamba-hambaNya dengan nikmat yang agung ini:


QS. Ibrahim: Ayat 32 (Juz 13)

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْاَنْهٰرَ

Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Dia juga telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia pun telah menundukkan sungai-sungai bagimu.


QS. Ibrahim: Ayat 33 (Juz 13)

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَاۤىِٕبَيْنِۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۚ

Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang.


QS. Ibrahim: Ayat 34 (Juz 13)

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ

Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.


Maha suci Allah telah menganugerahkan di antara kemuliaan nikmat-nikmatNya dengan nikmat siang dan malam. Keduanya (siang & malam) adalah waktu yang kita bicarakan dan kita berbicara di dalamnya serta dengannya, alam semesta yang besar ini melaluinya dari awal permulaannya sampai akhir kesudahannya. 


Allah ta’ala berfirman untuk mengokohkan karunia yang tinggi ini dengan ayat kedua:


QS. An-Nahl: Ayat 12 (Juz 14)

وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۙ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمْرِهٖۗ اِنَّ فِي ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَۙ

Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.


Allah ta’ala memberi isyarat di akhir ayat bahwa di dalam nikmat-nikmat tersebut terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) yang sampai kepada orang-orang yang memahami (menggunakan akalnya) dan merenungi. 


Wallahua’lam bisshowaab….

Bersambung….


فالزمن هو عمر الحياة وميدان وجود الإنسان، وساحة ظله وبقائه ونفعه وانتفاعه. وقد أشار القرآن الكريم إلى عظم هذا الأصل في أصول النعم، وألمح إلى علو مقداره على غيره، فجاءت آيات كثيرة ترشد إلى قيمة الزمن، ورفيع قدره وكبير أثره.

بعض الآيات المذكرة بنعمة الزمن

وأجتزىء هنا ببعض الآيات الكريمة في هذا المقام، قال تعالى ممتنا على عباده بهذه النعمة الكبرى: ﴿الله الذي خلق السموات والأرض، وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم، وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره وسخر لكم الأنهار. وسخر لكم الشمس والقمر دائبين، وسخر لكم الليل والنهار. وآتاكم من كل ما سألتموه، وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها إن الإنسان لظلوم كفار﴾ 

فامتن سبحانه في جلائل نعمه بنعمة الليل والنهار، وهما الزمن الذي نتحدث عنه ونتحدث فيه، ويمر به هذا العالم الكبير من بداية بدايته، إلى نهاية نهايته.

وقال تعالى مؤكدا هذه المنة العليا في آية ثانية: ﴿وسخر لكم الليل والنهار والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره إن في ذلك لآيات لقوم يعقلون﴾ فأشار في ختام الآية إلى أن تلك النعم فيها آيات بالغة عند الذين يعقلون و يتدبرون. 


Sabtu, 10 Januari 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu Menurut Para Ulama’) Seri Ke-2

 


Nikmat itu memiliki pokok-pokok (akar-akar) dan cabang-cabang 


Sesungguhnya, nikmat itu memiliki pokok-pokok dan cabang-cabang. Di antara cabang-cabang nikmat misalnya: keluasan ilmu, kekuatan fisik yang ekstra, kelapangan harta, mampu menjaga ibadah-ibadah sunnah seperti qiyamullail, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan berdzikir pada Allah ta’ala. Cabang-cabang nikmat yang lain misalnya mampu menjaga sunnah-sunnah fitrah atas wajah, kedua tangan dan anggota-anggota tubuh yang lain (misal memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dll) kemudian mampu menjaga amal-amal (perbuatan) sunnah seperti memakai wewangian bagi laki-laki ketika ada perkumpulan, bersalaman ketika ada pertemuan, masuk masjid dengan kaki kanan, keluar dengan kaki kiri, menghilangkan sesuatu yang mengganggu di jalan, dan lain sebagainya berupa adab-adab, kebiasaan-kebiasaan yang baik,  perkara-perkara yang disunnahkan untuk dilakukan dan sebagian perkara wajib. Alangkah agungnya cabang-cabang nikmat tersebut bagi orang yang mengenalnya (‘arifin).


Pokok-pokok nikmat (akar-akar nikmat).


Adapun pokok-pokok nikmat maka itu juga banyak, tidak bisa dihitung. Awal pokok nikmat adalah iman pada Allah ta’ala dan iman pada segala sesuatu yang datang dariNya serta mengamalkan (berbuat) sesuai dengan konsekuensi iman tersebut atas hal-hal yang diwajibkan dan diperintahkan olehNya. 


Di antara pokok-pokok nikmat juga adalah kesehatan jasmani, rohani dan spiritual meliputi sehat pendengaran, pengelihatan, sehat akal (dan  hati) serta kesehatan anggota badan. Kesehatan jasmani, rohani dan spiritual adalah inti/poros pergerakan manusia dan unsur utama yang diambil manfaatnya dalam mewujudkan eksistensi mereka. 


Di antara pokok-pokok nikmat juga adalah nikmat ilmu. Ilmu adalah nikmat yang besar yang menentukan ketinggian martabat manusia dan kebahagiaan manusia baik kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi. Maka ilmu adalah nikmat yang agung, bagaimanapun keadaannya. Maka mencari ilmu itu nikmat, mengambil manfaat dari ilmu itu nikmat, berbagi ilmu itu juga nikmat, mengabadikan dan mewariskannya untuk  generasi-generasi setelahnya itu juga nikmat, menyebarkan ilmu di tengah manusia itu nikmat, dan begitulah seterusnya. Di sana terdapat banyak contoh pokok-pokok nikmat. Aku tidak akan memperpanjang penyebutannya karena menjaga berharganya waktu.


Wallahua’lam bisshowaab….



للنعم أصول وفروع

وإنَّ للنعم أصولاً وفروعاً، فمن فروع النعم مثلاً: البَسْطَةُ في العلم والجسم والمال، والمُحافظَةُ على نوافل العبادات، مثلُ قيام الليل والإكثار من تلاوة القرآن، وذكر الله تعالى، والمُحافظَةُ على سُنَنِ الفِطرة في الوجه واليدين والأطراف، وسُنَنِ الأعمال مثل التطيُّب للرجال عند الاجتماع، والمُصافحةِ عند اللقاء، ودخول المسجد باليُمنى، والخروج منه باليُسرى، وإماطة الأذى عن الطريق، وما إلى ذلك من الآداب والسنن والمستحبات وبعض الواجبات، فكل أولئك من فروع النعم، وما أجلَّها من فروع عند عارفيها.

أصولُ النِّعَم

وأما أصولُ النِّعَمِ فكثيرة أيضاً لا تُحصى، وأوَّلُ أصول النعم: الإيمانُ بالله تعالى وبما جاء من عنده، والعملُ بمقتضى ذلك على ما أوجبهُ الله تعالى وأمر سبحانه.

ومن أصول النعم أيضاً: نِعْمةُ الصحةِ والعافية، التي منها سلامةُ السمع والبصر والفؤاد والجوارح، وهي مِحْوَرُ حركة الإنسان وقوامُ استفادته من وجوده.

ومن أصول النعم أيضاً: نعمةُ العلم، فهي نعمةٌ كبرى يتوقَّفُ عليها رقيُّ الإنسانية وسعادتها الدنيوية والأخروية جميعاً، فالعلمُ نعمةٌ جُلَّى، كيفما كان، فتحصيله نعمة، والانتفاع به نعمة، والنفعُ به نعمة، وتخليدُهُ ونقلهُ للأجيال المقبلةِ نعمة، ونشرهُ في الناس نعمة، وهكذا.

وهناك أمثلة كثيرة لأصول النعم، لا أُطيلُ بذكرها مراعاةً لقيمة الزمن.

Sabtu, 03 Januari 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu Menurut Para Ulama’) Seri Ke-1



Nilai waktu (berharganya waktu)


Dibalik judul yang ringkas ini, tersimpan berbagai makna dan konteks yang di dalamnya saling tarik menarik untuk dibahas. Waktu memiliki nilai tersendiri di mata para filosof, nilainya pun berbeda di mata para pedagang, berbeda pula menurut petani, pekerja, tentara, politisi, pemuda, orang tua, penuntut ilmu dan ahli ilmu. 


Aku mengkhususkan pembahasanku hanya pada nilai waktu (berharganya waktu) bagi para penuntut ilmu dan ahli ilmu. Hal ini aku lakukan karena berharap bisa memotivasi semangat pemuda-pemuda kita, para penuntut ilmu yang pada hari-hari ini semangatnya turun, niatnya kendor, era di mana jarang ditemukan pembelajar yang sangat “bernafsu” terhadap ilmu sehingga kepandaian pun lenyap dan yang mendominasi adalah kemalasan dan kelesuan. Sebagai buah dari hal tersebut, muncul kelemahan dan kemunduran dalam barisan para ahli ilmu dan jejak-jejak mereka. 


Maka aku katakan: sesungguhnya nikmat² Allah ta’ala atas hamba²Nya itu banyak, tidak dapat dihitung. Tidak mungkin bagi manusia untuk menghitungnya dan menjangkaunya secara hakikat. Hal itu disebabkan karena sangat banyaknya nikmat Allah, tidak ada henti-hentinya, mudah memperolehnya, berkesinambungan anugerah Allah akan nikmat dan berbagai macam persepsi manusia terhadap nikmat. Maha benar Allah yang Maha Agung: 


QS. Ibrahim: Ayat 34


وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ

wa in ta‘uddû ni‘matallâhi lâ tuḫshûhâ, innal-insâna ladhalûmung kaffâr


Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.


Wallahua’lam bisshowaab……



___________________________________________________


كتاب قيمة الزمن عند العلماء

قيمة الزمن

لهذا العنوان الصغير أطراف كثيرة وكبيرة من المعاني والمواضيع، تتجاذب الكلام فيها، فللزمن قيمة عند الفلاسفة غير قيمته عند التجار، وغيرها عند الزراع، وغيرها عند الصنَّاع، وغيرها عند العسكريين، وغيرها عند السياسيين، وغيرها عند الشباب، وغيرها عند الشيوخ، وغيرها عند طلبة العلم وأهل العلم.

وأخص بحديثي (قيمة الزمن) عند طلبة العلم وأهل العلم فحسب، رجاءً أن يكون ذلك حافزاً لهمم أصحاب العزائم من شبابنا طلاب العلم، في هذه الأيام التي فترت فيها هِمَمُ الطالبين، وتقاعست غايات المُجِدِّين، ونَدَرَ فيها وجود الطلبة المحترقين بالعلم، فمات النبوغ وساد الكسل والخمول، وبرز من جراء ذلك الضعف والتأخر في صفوف أهل العلم وآثارهم، فأقول:

إنَّ نعم الله تعالى على عِبادِهِ كثيرة لا تُحصَى، ولا يمكن للبشر أن يُحصوها أو يُدركوها على حقيقتها، وذلك لكثرتها، واستمرارها، ويُسْرِها، وتتابع إنعام الله بها، وتفاوت مدارك الناس لها، وصَدَقَ الله العظيم إذ يقول: {وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ} (1).

(1) من سورة إبراهيم، الآية ٣٤.


Senin, 10 November 2025

Pahala Sunnah yang Sering Terlupakan

 


       Banyak di antara kita yang sering melewatkan pahala sunnah ini. Padahal, aktivitas ini rutin kita lakukan setiap hari. Gara-gara tidak ngaji (belajar), akhirnya kesunnahan ini terlewat begitu saja. Apa itu? Siwakan. Siwakan tidak harus dengan kayu khusus siwak (kayu arok), tapi bisa dilakukan dengan sikat gigi. Tapi ingat, harus berniat siwakan mengikuti sunnah rasul. Lintaskan dalam hati berniat siwakan mengikuti sunnah nabi saat sikat gigi, maka pahala akan kita peroleh. Kalau tidak berniat, ya tidak dapat pahala siwakan. Hanya sekedar gigi dan mulut bersih, itu saja. Rugi bukan? Padahal simpel caranya.


Berikut kisah para sholihin yang sangat getol untuk istiqomah siwakan. Diambil dari Kitab Fiqh Hikayah:


كان الحبيب علي بن عبد الله السقاف نسي مسواكه في الغيلة، فلما أراد أن يتسوك للوضوء تذكره، فأمر بعضهم أن يشد الخيل ويأتي به. (تحفة الأشراف)

Habib Ali bin Abdullah As-Saqof melupakan alat siwaknya di hutan. Ketika hendak bersiwak untuk melaksanakan wudhu’, beliau teringat. Maka beliau memerintahkan sebagian santrinya untuk menyiapkan kuda. Lalu beliau menuju ke hutan dengan kudanya (untuk mengambil alat siwak tadi).


يحكى أن الشبلي اشترى سواكا بدينار، وذلك أنه حضرته الصلاة ولم يجد سواكا ووجد رجلا معه سواك، فقال: لا أبيعه إلا بدينار، فاشتراه به، فقيل له: أنت مبذر تشتري سواكا بدينار، فقال: هذه سنة أمرنا بها النبي صلى الله عليه وسلم قال: "لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة"، "وصلاة بسواك أفضل من سبعين صلاة بلا سواك". والدينار جزء من جناح بعوضة، والدنيا كلها ما تساوي عند الله جناح بعوضة.

Diceritakan bahwa Imam Syibli membeli siwak seharga 1 (satu) dinar. Hal itu terjadi ketika waktu shalat tiba, beliau tidak menemukan siwak, sementara beliau menemui seorang lelaki yang membawa siwak. Lelaki tersebut berkata: “Aku tidak menjualnya kecuali dengan harga 1 (satu) dinar”, maka beliau pun membelinya. Kemudian dikatakan pada beliau: “Kau adalah orang yang mubadzir (menghambur-hamburkan harta). masak membeli siwak saja sampai bersedia membayar 1 (satu) dinar”. Beliau pun membalas: “Ini adalah Sunnah yang diperintahkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda: Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat”. “Satu shalat dengan bersiwak lebih utama daripada tujuh puluh salat tanpa bersiwak”. 1 (satu) dinar hanyalah bagian kecil dari sayap seekor nyamuk, sedangkan seluruh dunia ini tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk di hadapan Allah SWT”.


كان بعض التلاميذ يقرأ على شيخه باب السواك، فقال شيخه: إذا لم يكن معك سواك فلا تقرأ !

Sebagian murid membaca kitab dengan topik siwakan (bab siwak) kepada gurunya. Kemudian gurunya berkata: “Jika kamu tidak membawa siwak, maka jangan membaca bab siwak!”.


Wallahua’lam bisshowaabb….

Rabu, 07 Mei 2025

Kiai Abdul Hamid Kajoran dan Mbah Lim

 



Kitab Ha'ulaa'i Masyayikhuna

كان الشيخ كياهي عبد الحميد كجوران مرض مرضا شديدا عند  ما يتقرب مؤتمر نهضة العلماء الثامن والعشرون في سنة تسعة وثمانين وتسعمائة وألف م، فعاده الشيخ كياهي مسلم رفاعي المشهور بمباه ليم والشيخ عبد الرحمن وحيد المشهور بغوس دور، فقال الشيخ حميد للشيخ مسلم: كياهي قد حان أجلي فأنا سأموت الآن، فقال له: لا، لا، فقال له: إذا كيف؟ قال له: تفضل من أن تموت ولكن انتظر إلى المؤتمر! فتوفي الشيخ كياهي حميد بأربعين يوما بعد المؤتمر.

Kiai Abdul Hamid Kajoran menderita sakit parah ketika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-28 pada tahun 1989 M. Ia dijenguk oleh Kiai Muslim Rifai yang dikenal dengan sebutan Mbah Lim, dan Kiai Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan sebutan Gus Dur. Lalu Kiai Hamid berkata kepada Kiai Muslim: "Kiai, ajal saya telah tiba, saya akan meninggal sekarang". Maka Kiai Muslim menjawab: "Tidak, tidak". Kiai Hamid pun bertanya: "Kalau begitu bagaimana?" Kiai Muslim menjawab: "Sebaiknya, jangan meninggal dulu Kiai, tapi tunggulah sampai muktamar selesai!" dan benar, Kiai Hamid wafat empat puluh hari setelah Muktamar.


Wallahua'lam bisshowaabb...


Sabtu, 03 Mei 2025

Kyai Hamid Pasuruan dan Seorang Lelaki

 


Kitab Ha'ulaa'i Masyayikhuna

وحكي أن رجلا من كندال الجاوي الوسطى قدم يوم إلى الشيخ  كياهي حميد فاسوروان، فلما علم الشيخ أنه من كندال قال له: متى رجعت إلى كندال فاطلب فلان ابن فلان في سوق كندال واقرأ السلام مني! فتحير ذلك الرجل لأن فلانا رجل مشهور بالمجنون في كندال، فسأله: يا شيخ أليس ذالك فلان بن فلان المجنون؟ قال له: هو ولي من أولياء الله المستورين يحفظ تلك الدائرة، ببركته تنزل الرحمة وتدفع المصيبة، فلما رجع إلى كندال طلب فلانا في السوق فوجده فدنا منه وقال له: السلام عليكم، فنظر له نظرة جادة وقال له: وعليكم السلام، ماذا تريد؟  قال له: أن الشيخ كياهي حميد يقرئك السلام، فقال له: عليك وعليه السلام، آه آه قد استترت عن الناس لئلا يعلموني لكنه كشفني للناس، فقال: اللهم الآن كان شخص قد عرفني فإني لا أستطيع تحمله، فاقبض روحي، فقبض الله روحه بعد أن قال لا إله إلا الله محمد رسول الله.

Diceritakan ada seorang lelaki dari Kendal, Jawa Tengah sowan kepada Kyai Hamid Pasuruan. Ketika Kyai Hamid mengetahui bahwa lelaki tadi berasal dari Kendal beliau berkata kepadanya: "Jika engkau kembali ke Kendal, carilah si Fulan bin Fulan di pasar Kendal dan sampaikan salam dariku!". Lelaki itu pun menjadi bingung karena orang yang disebutkan itu terkenal sebagai orang gila di Kendal. Maka dia bertanya: "Maaf Kyai, bukankah si Fulan bin Fulan itu gila?" Kyai Hamid menjawab: "Dia adalah salah satu wali Allah yang tersembunyi (mastur), dia menjaga daerah itu. Berkat keberkahannya, rahmat turun dan musibah dihindarkan." Ketika lelaki itu kembali ke Kendal, dia mencari si Fulan di pasar dan menemukannya. Ia pun mendekat dan mengucapkan, "Assalamu’alaikum." Orang itu menatapnya dengan serius dan berkata, "Wa’alaikumussalam, apa yang kamu inginkan?" Ia menjawab: "Kyai Hamid mengirimkan salam untukmu." Orang itu menjawab, "Wa’alaikumussalam untukmu dan untuknya. Aduh... Aku telah menyembunyikan diriku dari orang-orang agar mereka tidak mengenalku, tetapi dia (Kyai Hamid) telah membukaku kepada orang-orang." Lalu dia berkata: "Ya Allah, sekarang ada orang yang sudah mengenalku, dan aku tak sanggup menanggungnya. Maka cabutlah nyawaku." Maka Allah pun mencabut nyawanya setelah dia mengucapkan, Lā ilāha illallāh Muhammadur Rasūlullāh.


Wallahua'lam bisshowaabb....




Sabtu, 26 April 2025

Kapan batas waktu harus bersegera menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat jumat bagi orang yang sibuk di luar masjid (misal bekerja, berdagang dan aktivitas lainnya yang tidak ada unsur dhoruroh)?


 Jawab:

Saat adzan kedua berkumandang (saat adzan untuk khutbah dikumandangkan) wajib bersegera berangkat. Jika menunda, maka hukumnya haram.


Kitab Hasyiyah Al Jamal 'ala Syarh Al Manhaj

(وَحَرُمَ عَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ) 

الجُمُعَةُ (اشْتِغَالٌ بِنَحْوِ بَيْعٍ) مِنْ عُقُودٍ وَصَنَائِعَ وَغَيْرِهَا مِمَّا فِيهِ تَشَاغُلٌ عَنْ السَّعْيِ إلَى الْجُمُعَةِ (بَعْدَ شُرُوعٍ فِي أَذَانِ خُطْبَةٍ)

Haram bagi orang yang wajib melaksanakan shalat Jumat menyibukkan diri dengan semacam jual beli, seperti akad-akad, pekerjaan, dan selainnya berupa hal² yang menyibukkan dari bersegera menuju shalat Jumat, (setelah dimulainya adzan untuk khutbah)

...................................................................................................

(قَوْلُهُ: مِمَّا فِيهِ تَشَاغُلٌ عَنْ السَّعْيِ إلَى الْجُمُعَةِ)

 وَهَذَا يُفِيدُ أَنَّ الشَّخْصَ إذَا قَرُبَ مَنْزِلُهُ جِدًّا مِنْ الْجَامِعِ وَيَعْلَمُ الْإِدْرَاكَ وَلَوْ تَوَجَّهَ فِي أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ يَحْرُمُ عَلَيْهِ أَنْ يَمْكُثَ فِي بَيْتِهِ يَشْتَغِلُ مَعَ عِيَالِهِ أَوْ غَيْرِهِمْ بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْمُبَادَرَةُ إلَى الْجَامِعِ عَمَلًا بِ قَوْله تَعَالَى ﴿إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ﴾ [الجمعة: ٩]، الْآيَةَ، وَهُوَ أَمْرٌ مُهِمٌّ فَتَفَطَّنْ لَهُ كَذَا رَأَيْتُهُ بِخَطِّ شَيْخِنَا الْبُرُلُّسِيِّ ثُمَّ رَأَيْتُ فِي شَرْحِ الْإِرْشَادِ لِشَيْخِنَا حَجّ وَلَوْ كَانَ مَنْزِلُهُ بِبَابِ الْمَسْجِدِ أَوْ قَرِيبًا مِنْهُ فَهَلْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ ذَلِكَ أَوْ لَا كَلَامُهُمْ إلَى الْأَوَّلِ أَمْيَلُ وَهَلْ الِاشْتِغَالُ بِالْعِبَادَةِ كَالْكِتَابَةِ كَالِاشْتِغَالِ بِنَحْوِ الْبَيْعِ قَضِيَّةُ كَلَامِهِمْ نَعَمْ اهـ.

(Ucapan muahonnif: "dari hal-hal yang menyibukkan diri untuk bersegera menuju salat Jumat"). Ini menunjukkan bahwa apabila seseorang rumahnya sangat dekat dengan masjid jami’, dan dia tahu (meyakini) bahwa dia masih bisa mendapatkan shalat jumat meskipun berangkatnya saat khutbah, maka haram baginya untuk tetap tinggal di rumah sambil sibuk dengan keluarganya atau selain keluarganya. Sebaliknya, wajib baginya untuk segera menuju masjid jami’, berdasarkan firman Allah Ta'ala: “Apabila diseru untuk salat…” (QS. Al-Jumu‘ah: 9). Ini adalah perkara penting, maka perhatikanlah baik-baik. Demikian yang aku lihat pada tulisan guru kami al-Burlusi. Kemudian aku juga melihat dalam Syarh al-Irsyad karya guru kami Ibnu Hajar Al Haitami: Apabila rumah seseorang berada di pintu masjid atau sangat dekat darinya, apakah haram baginya (untuk tidak segera pergi ke masjid) atau tidak? Pembahasan para ulama condong kepada pendapat pertama (yaitu haram). Dan apakah kesibukan berupa ibadah seperti menulis kitab sama hukumnya dengan kesibukan seperti berdagang? kesimpulan dari pernyataan mereka adalah, iya.

(قَوْلُهُ: بَعْدَ شُرُوعٍ فِي أَذَانِ خُطْبَةٍ) 

فَإِنْ قُلْت لِمَ تَقَيَّدَتْ الْحُرْمَةُ هُنَا دُونَ التَّنَفلِ فَإِنَّهُ بِمُجَرَّدِ الْجُلُوسِ، قُلْت يُمْكِنُ أَنْ يُفَرَّقَ بِأَنَّ الْمُتَنَفِّلَ حَاضِرٌ ثَمَّ فَالْإِعْرَاضُ مِنْهُ أَفْحَشُ بِخِلَافِ الْعَاقِدِ هَا هُنَا فَإِنَّهُ غَائِبٌ فَلَا يَتَحَقَّقُ الْإِعْرَاضُ مِنْهُ إلَّا بَعْدَ الشُّرُوعِ فِي الْمُقَدِّمَاتِ الْقَرِيبَةِ وَأَوَّلُهَا الْأَذَانُ اهـ. شَوْبَرِيٌّ

(Ucapan mushonnif: "setelah dimulainya adzan khutbah"). Jika kamu bertanya, “Mengapa keharaman yang dibatasi pada saat dimulainya adzan khutbah tidak berlaku bagi orang yang melaksanakan shalat sunnah dimana hukumnya haram melakukan shalat sunnah saat khotib cukup sekedar duduk di mimbar meskipun adzan belum dimulai?” Aku menjawab: Bisa dibedakan antara keduanya. Orang yang shalat sunnah itu berstatus "orang yang hadir", maka berpaling itu lebih buruk. Berbeda dengan orang yang berjualan, karena dia "berstatus ghoib (belum hadir sejak awal)", maka sikap berpaling  tidak dianggap terjadi kecuali setelah dimulainya hal-hal yang mendekati shalat jumat, dan hal pertama yang paling mendekati adalah adzan. (As Syaubari).


Wallahua'la bisshowaab....